PEMBINA FUTSAL TERBAIK
Ketika Skor Bukan Satu-Satunya Target, Tapi Karakter Anak
Lapangan hijau. Sorakan reda. Papan skor mungkin nggak berpihak. Tapi di sudut lapangan itu, ada pelajaran yang nggak akan pernah muat di papan skor. Ada pembina yang menunduk, memegang bahu anak didiknya yang tertunduk kecewa. Satu tangan menepuk pelan, bukan memukul. Tatapannya bukan marah, tapi pesan sederhana: "Aku di sini".
Itulah Pembina Futsal Terbaik.
Pembina terbaik nggak cuma hafal formasi dan teriak instruksi. Dia juga yang pertama jongkok pas anaknya jatuh. Dia paham betul, otot bisa dilatih berjam-jam, tapi mental bisa runtuh dalam sekejap kalau nggak ada yang menopang Saat anak itu tenggelam dalam kecewa, capek, dan nyesel, sang pembina nggak langsung nyuruh bangkit dengan bentakan. Dia temani dulu. Karena dia tahu, orang cuma bisa lari sekencang-kencangnya kalau yakin ada yang nunggu di garis finish.
Jersey maroon nomor tujuh itu basah kuyup. Sang pembina menarik bahu anak itu pelan. Bukan untuk dimarahi. Tapi untuk diajak berdiri lagi, diajak menatap lapangan sekali lagi. Gagal sekali bukan berarti gagal selamanya. Itu yang dia bisikkan tanpa suara. Pembina terbaik mengajarkan bahwa kekalahan hanyalah data, bukan vonis. Peluit panjang boleh dibunyikan wasit, tapi pembina yang memastikan peluit itu nggak mematikan mimpi anaknya.
Banyak yang jago meracik taktik. Tapi nggak semua bisa bikin anak nomor tujuh itu tetap mau datang ke latihan minggu depan dengan semangat yang sama. Pembina futsal terbaik itu dermawan waktunya, tenaganya, bahkan air matanya saat anak asuh kalah. Dia sabar mengulang instruksi keseratus kali tanpa bentak. Dia bijaksana, tahu kapan harus bersuara keras dan kapan harus berbisik pelan.
Dia nggak cuma mencetak pemain. Dia mencetak manusia. Manusia yang menang kalah biasa saja, tapi mentalnya setegar baja.
Gelar juara boleh datang dan pergi. Tapi anak yang tumbuh jadi berani, disiplin, dan nggak pernah ninggalin temannya saat susah ? Itu piala yang nggak ada tanggal kedaluwarsanya. Buat semua pembina di luar sana:
Menandatangani ratusan lembar raport itu melelahkan. Tapi menandatangani "karakter" di hati belasan anak futsal ? Itu lelah yang bikin namamu jadi legenda.
Lapangan ini butuh lebih banyak pembina sepertimu, Terima kasih Bapak Bambang Suharyadi...🙏